Janji Rinjani
Pagi ini, entah bagaimana aku sudah mendapati diriku sedang duduk di salah satu bangku peron stasiun. Yang kuingat hanyalah isi sms dari adik semata wayangku, Randu.
“Mba, kapan pulang ke Blitar? Randu kangen, cepat pulang ya Mba.”
Aku tertegun ketika membacanya tadi malam. Aku ragu, haruskah aku pulang hanya karena Randu sedang merindukanku? Tidak. Aku harus pulang dengan alasan yang tepat. Aku sudah berjanji untuk tidak pulang sebelum meraih gelar sarjana. Sejenak aku terdiam, mencoba meresapi apa yang kurasakan. Kemudian aku sadar, aku juga merindukan Randu. Mungkin aku memang harus pulang. Tapi, inikah yang kuinginkan, pulang ke rumah dan bertemu dengan Ibuku? Sebelumnya, aku tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan Ibu secepat ini, setelah pertengkaran kami pada malam sebelum keberangkatanku ke Solo. Ibu tidak setuju dengan pilihanku untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi Massa.
“Ibu tidak setuju kamu mengambil jurusan itu. Kamu akan jadi apa setelah lulus?” kata ibu waktu itu, sambil menunjukkan mimik tidak senangnya.
“Rinjani ingin jadi wartawan.” Sahutku dengan tegas. Aku ingin menunjukkan keseriusanku.
“Apa kamu bisa? Kamu sanggup? Jadi wartawan itu bukan untuk main-main, bukan untuk gaya. Wong kamu bisanya cuma main sama teman-temanmu yang nggak jelas itu. Kamu itu…”
Aku segera memotong pembicaraan ibuku. “Itu dulu, Bu. Sekarang usia Rinjani sudah delapan belas tahun, sudah saatnya Rinjani untuk menentukan masa depan sendiri.” Jawabku dengan kesal.
Sambil menghembuskan nafas, ibu berkata, “Yo wis, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi jangan salahkan ibu kalau terjadi sesuatu.”
“Apa maksud Ibu dengan sesuatu? Sesuatu apa? Rinjani sudah siap dengan segala resiko yang akan terjadi.” Sahutku. Aku merasa ibu seperti meragukan kemampuanku hanya karena sifatku yang suka seenaknya.
“Solo itu jauh, apa kamu sanggup?” tanya ibu waktu itu. Pertanyaan itu semakin menunjukkan kesangsiannya terhadapku.
“Rinjani sanggup,” sahutku tanpa ragu-ragu. “Ibu jangan menyangsikan kemandirian Rinjani, Rinjani sudah dewasa. Ibu tahu itu kan?” kataku. Saat itu aku sedang mencoba untuk menegaskan niatku.
“Ibu tahu. Tapi ibu yakin, belum genap seminggu kamu di sana, kamu akan merindukan rumah dan menyesal dengan keputusan yang telah kamu ambil.”
Aku terdiam, mencoba mencerna kata-kata ibu. Kemudian aku menarik nafas dan berkata, “Tidak akan. Rinjani berjanji tidak akan kembali ke rumah, sebelum meraih gelar sarjana.”
Kemudian aku berangkat dengan perasaan galau. Kenapa ibu tidak mempercayaiku? Kenapa ibu tidak seperti ayah yang selalu mendukung keputusanku? Aku tidak habis fikir, mengapa ibu bersikap seperti itu kepadaku. Apakah salah jika aku ingin mandiri? Baiklah, aku akan menunjukkan keseriusanku dalam hal ini. Aku berjanji tidak akan kembali ke rumah sebelum meraih gelar kesarjanaanku. Tekadku sudah bulat, tidak ada yang bisa menghalangi kepergianku.
Namun, benar apa yang dikatakan oleh ibu. Belum genap satu minggu aku di Solo, aku sudah merindukan rumah. Sebisa mungkin kutahan rasa rindu itu selama tiga tahun, aku tidak mau melanggar janjiku. Akan kubuktikan pada ibu, bahwa aku tidak seperti apa yang difikirkannya.
Jika aku mengingat pertengkaran itu, aku merasa ibu tidak pernah mempercayaiku. Semalam aku sudah memutuskan untuk tidak pulang. Namun kenyataannya, pagi ini aku sudah berada disini, duduk terdiam menanti kereta datang. Lalu ini apa? Bukankah aku sedang melanggar janji yang selama ini telah kubuat? Semester depan aku akan mengajukan proposal penyusunan skripsi. Tinggal selangkah aku dalam mencapai cita-citaku, tapi mengapa aku ingkar?
Aku dikejutkan oleh suara pengumuman petugas stasiun yang mengatakan bahwa kereta akan datang sekitar lima belas menit lagi. Jantungku berdebar, sebentar lagi kereta akan datang dan aku masih ragu untuk melakukan perjalanan ini. Tapi aku sudah terlanjur di sini, apa boleh buat, aku harus segera membeli tiket sebelum kereta datang.
Setelah mendapatkan tiket kereta, aku kembali duduk di tempatku semula. Hari masih pagi, namun suasana di stasiun Solo Jebres terlihat cukup ramai. Para calon penumpang menanti kedatangan kereta dengan tidak sabar, sedangkan para pedagang asongan sibuk hilir mudik sambil menawarkan barang dagangan mereka. Kemudian mataku tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di lantai, tidak jauh dari tempat aku berada. Sepertinya ia adalah salah satu dari anak jalanan yang ada di stasiun ini, terlihat dari pakaian yang ia kenakan. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku seperti melihat kesedihan di matanya. Kemudian aku terdorong untuk mendekati anak itu.
Dengan hati-hati aku menyapanya, “Hai Adik, kok sendirian? Kakak temani, ya.”
Dia tidak menjawab, hanya sibuk memainkan jemari tangannya yang mungil.
“Adik mau kue? Ini, ambillah!” kataku sambil menyodorkan kue yang kemarin baru kubeli dari toko swalayan di dekat kampus.
Dengan ragu-ragu ia mengulurkan tangannya, kemudian mengambil kue itu dari tanganku. Tetapi ia seperti enggan untuk memakannya.
Aku tersenyum,”Ayo, dimakan kuenya. Kue ini enak lho.”
Anak itu masih terdiam. Ia menatapku sejenak, lalu memasukkan kue kedalam mulutnya dengan pelan. Aku terus menatapnya, ia seperti memiliki daya tarik yang bisa mendorong siapa saja untuk memperhatikannya. Usia anak itu mungkin belum genap tujuh tahun, namun ia sudah berada di lingkungan yang kurang mendukung perkembangannya sebagai seorang anak. Kenapa anak sekecil bisa berada di sini sendirian?
“Kamu di sini sendirian?” tanyaku sambil membenarkan posisi dudukku.
“Iya.” Jawabnya pelan. Kemudian ia berhenti memakan kue yang ada pada genggamannya.
“Kenapa berhenti? Nggak enak ya? Ini Kakak punya kue yang lain. Kamu mau kan?” kataku sambil memberikan kue lain yang ada di tas kecilku.
Kemudian ia mengambil kue itu dengan penuh semangat. Lalu ia berkata, “Terima kasih, ya Kak. Aku akan memberikan kue ini kepada ibuku.”
“Wah, kamu baik sekali, kamu sangat menyayangi ibumu ya?” tanyaku.
“Iya Kak, aku sangat menyayangi ibuku. Ibuku juga sangat menyayangi diriku. Setiap hari ibu selalu bekerja keras untuk mencari makan bagi kami berdua. Nah, itu ibuku datang. Ibu…!” ia berseru kencang sambil berlari ke arah seorang wanita setengah baya yang baru datang dari pintu masuk stasiun. Sang ibu langsung menghujani anaknya dengan ciuman di pipi sedangkan sang anak malah tertawa karena geli. Lalu anak kecil itu memberikan kue pemberianku kepada ibunya. Senyum mengembang dari wajah sang ibu, kemudian dengan penuh suka cita ia memakan kue itu bersama anaknya. Keduanya tampak sangat bahagia.
Aku terpana melihat pemandangan seperti itu. Terakhir aku makan bersama-sama dengan ibu sekitar tiga tahun yang lalu. Entah mengapa, ada desir halus menyentuh rongga hatiku. Apakah aku sedang merindukan ibuku? Aku merasa mataku sedikit memanas.
Belum sempat aku menemukan jawaban, terdengar deru kereta yang makin mendekat. Para calon penumpang bergegas mendekati rel kereta. Mereka seolah tidak sabar untuk segera naik ke kereta. Bunyi rem kereta semakin kencang ketika memasuki stasiun, sampai akhirnya berhenti. Suasana menjadi makin riuh oleh suara-suara yang ditimbulkan oleh para calon penumpang yang akan naik ke kereta, ditambah seruan pedagang asongan yang menjajakan barang dagangannya. Setelah pintu-pintu gerbong kereta terlihat sepi, aku baru merapikan barang bawaan dan bergegas naik ke kereta.
Saat memasuki gerbong, aroma tak sedap langsung menyerang penciumanku. Aku segera menutupi hidung dan mulutku dengan sapu tangan, sambil berjalan menelusuri lorong gerbong untuk mencari bangku kosong. Akhirnya aku mendapatkan satu bangku kosong di samping jendela. Bangku itu dapat ditempati oleh dua orang, masing-masing bangku itu saling berhadapan, sehingga memungkinkan para penumpang untuk berinteraksi satu sama lain. Kebetulan hanya ada seorang wanita separuh baya yang duduk di kelompok bangku itu. Sehingga aku tidak perlu khawatir untuk merasa was-was, seperti jika aku duduk bersama pria yang tidak kukenal.
Kereta perlahan bergerak maju, kemudian sedikit demi sedikit kecepatannya pun bertambah. Aku bisa melihat pemandangan luar yang seperti ikut bergerak menjauhi kereta. Rumah-rumah, pohon-pohon, dan sawah-sawah seperti berlari menjauh. Dulu waktu kecil, aku sering bertanya-tanya mengapa itu bisa terjadi. Mengapa gunung dan sawah lari dariku? Apakah mereka tidak menyukaiku? Betapa naifnya diriku waktu itu.
Tiba-tiba saja air mataku meleleh. Aku teringat saat pertama kali diajak naik kereta oleh ayah dan ibuku. Waktu itu usiaku baru tujuh tahun, sedangkan usia Randu belum genap tiga tahun. Kami akan pergi untuk mengunjungi salah satu saudara di Surabaya. Ibu membawa bekal untuk kami dan dengan sabar ia menyuapiku, ketika aku merasa lapar. Ya Tuhan, betapa bodohnya aku jika selama ini mengira ibu tidak menyayangiku. Dari mana aku mendapatkan pemikiran seperti itu?
“Mba, kok menangis? Ada apa Mba?” aku sedikit dikejutkan oleh suara seseorang. Ternyata itu adalah suara wanita paruh baya yang duduk di depanku. Usianya mungkin hampir sama dengan usia ibuku.
“Ah, tidak apa-apa, Bu.” Jawabku sambil mengusap air mata yang membasahi pipiku.
“Mba pasti sedang memikirkan kekasihnya.” Kata wanita itu sambil tersenyum penuh makna.
Aku sedikit tersipu,”Tidak, saya tidak sedang memikirkan hal seperti itu.”
“Kalau bukan, pasti sedang rindu sama ibunya. Iya kan?” tebaknya dengan yakin.
Aku hanya tersenyum, tidak tahu harus menjawab apa.
Wanita itupun tersenyum, kemudian ia berkata, “Ibu mempunyai anak gadis seperti Mba, usianya mungkin juga tidak jauh berbeda dengan usia Mba. Namanya Dinna.” Ia berhenti sejenak, kemudian ia meneruskan kata-katanya, “Ibu sangat menyayanginya, tetapi sudah empat tahun ibu tidak bertemu dengan Dinna. Setelah lulus dari bangku SMU, ia memutuskan pergi ke Jakarta untuk bekerja. Setelah itu, ia tidak pernah lagi pulang ke rumah.” Sejenak wanita itu terdiam sambil menatap ke arah luar jendela.
Aku tidak tahu apa yang sedang dilihat oleh wanita itu. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Aku merasa apa yang disampaikannya mirip dengan ceritaku. Anaknya pergi meninggalkan rumah dan tidak pernah pulang. Tapi, apa yang menjadi alasan Dinna untuk melakukan hal itu?
Seperti dapat membaca fikiranku, wanita itupun berkata. “Dinna tidak pernah pulang karena di antara kami terjadi kesalahpahaman.”
“Kesalahpahaman?” tanyaku dengan heran.
Wanita itu mengangguk, “Waktu itu ibu tidak menyetujui rencana keberangkatan Dinna ke Jakarta. Lalu ia tersinggung, dan mengatakan bahwa ia tidak akan pulang sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Ibu tahu, Dinna anak yang baik, ini semua kesalahan ibu. Ibu tidak pernah mengatakan alasan mengapa ibu tidak setuju dengan keputusannya.”
“Lalu, apa alasan Ibu?” tanyaku lagi.
“Alasannya sederhana saja, ibu sangat menyayangi Dinna. Ibu tidak mau ia berada jauh dari ibu. Apalagi Dinna adalah anak perempuan ibu satu-satunya. Memang terdengar egois, namun itulah yang ibu rasakan. Ibu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Dinna. Tapi sayang, ibu tidak pernah mengatakan hal ini pada Dinna.” Terdengar nada penyesalan dari kata-kata yang diungkapkan wanita itu.
“Mengapa tidak?” tanyaku sambil menatap lekat-lekat wanita yang sedang duduk di depanku itu.
“Ibu juga tidak tahu, terkadang seorang ibu tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada orang lain, bahkan terhadap anaknya sendiri. Waktu itu ibu hanya tidak bisa mengungkapkan rasa sayang ibu kepada Dinna.” Jelasnya.
“Mengapa tidak bisa?” tanyaku penasaran.
“Karena rasa sayang itu tidak selalu bisa diucapkan lewat kata-kata. Tapi percayalah, seorang ibu, walaupun ia tidak pernah mengatakan rasa sayangnya kepada sang anak, namun ia akan menunjukkan rasa itu dengan mendoakan kebahagiaan bagi sang anak sepanjang hidupnya.”
Perasaanku seperti melayang setelah mendengar ucapan wanita itu. Aku merasa ia seperti mengetahui apa yang sedang kualami. Benarkah apa yang dikatakannya? Aku bertanya-tanya, apakah ibuku juga seperti apa yang disampaikan oleh wanita itu?
“Mba, sebentar lagi saya harus turun. Maaf ya, ibu sudah merepotkan Mba dengan berbicara yang aneh-aneh.” Wanita itu berkata sambil mengajakku berjabat tangan. Kemudian ia membereskan barang bawaannya.
“Ah, Ibu. Saya tidak merasa direpotkan, malah saya merasa senang bisa mengobrol dengan Ibu.” Sahutku sambil membantunya merapikan tas-tas yang dibawanya.
“Terima kasih, salam buat Ibu Mba di rumah. Beliau sangat beruntung dengan memiliki anak gadis secantik Mba.” Kemudian ia turun di sebuah stasiun kecil yang tidak kuketahui namanya.
Setelah itu aku tersadar, mungkin benar apa yang dikatakan wanita paruh baya tadi. Mungkin aku yang kurang mengerti tentang ibuku. Seharusnya aku tidak begitu saja menuruti egoku untuk tidak pulang hanya karena sebuah pembuktian bahwa aku tidak seperti yang difikirkan oleh ibu.
Tiba-tiba saja aku merasa tidak sabar untuk segera sampai ke rumah. Aku terus berdoa agar kereta ini bisa cepat sampai ke kotaku, walaupun aku tahu saat ini keretaku baru memasuki daerah Madiun. Perjalanan menuju Blitar masih jauh, tapi aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ibu. Aku akan meminta maaf atas segala keegoisanku. Malahan, saat ini aku hampir lupa dengan keragu-raguan yang aku rasakan pagi tadi saat berada di stasiun. Aku merasa sangat yakin dengan keputusanku ini. Aku memang harus pulang. Bagaimanapun ibu adalah segalanya bagiku, dan aku tidak bisa seenaknya saja meragukan rasa sayang ibu padaku. Kemudian aku merasa sangat mengantuk dan kuputuskan untuk tidur sejenak.
Hari sudah siang ketika aku mendengar suara petugas kereta membangunkan tidurku. Aku segera melihat ke arah luar jendela. Sudah sampai stasiun manakah diriku? Hatiku seperti melonjak, ketika mengetahui bahwa di luar aku bisa dengan jelas melihat papan besar bertuliskan nama kotaku. Aku sudah sampai di kota kelahiranku!
Kemudian aku segera membawa tas bawaan dan bergegas menuju pintu keluar di ujung gerbong kereta. Tak kuhiraukan para penumpang yang berdesakan dengan para pedagang asongan yang berjalan di lorong gerbong. Bahkan bau tidak sedap yang kurasakan tadi pagi, sama sekali tidak tercium olehku. Aku merasa sangat bahagia, hingga aku tidak peduli dengan rasa penat yang kurasakan karena duduk terlalu lama di dalam kereta. Perjalanan selama enam jam sama sekali tidak terasa bagiku. Kemudian, dengan penuh semangat, aku segera mencari angkutan umum yang bisa membawaku pulang ke rumah.
Namun, nasib sial sedang menimpa diriku ketika angkutan umum yang kutumpangi tiba-tiba saja mogok di tengah jalan. Sopir tidak bisa memperbaikinya, kemudian ia sibuk meminta maaf kepada para penumpang dan meminta agar menunggu sebentar. Aku merasa sudah tidak sabar, aku segera keluar dari mobil, membayar sejumlah uang, kemudian berlari sekuat tenaga menuju kompleks perumahan tempat aku tinggal. Tak kurasakan betapa sakitnya kakiku karena lecet, yang terbayang di benakku hanyalah wajah ibuku. Ibu, maafkan Rinjani, sebentar lagi aku akan sampai. Aku berjanji akan menjagamu setelah lulus nanti.
Keringat dingin terus mengucur di dahiku, tapi aku tidak perduli. Tinggal beberapa blok yang harus kulalui untuk bisa sampai ke rumah. Aku semakin mempercepat lariku, tak perduli terhadap tatapan orang-orang di sekitar. Aku hanya ingin bertemu dengan ibu, ayah, dan Randu. Rasa lega menyelimuti hatiku, ketika aku sudah sampai di depan rumah yang telah kutinggalkan selama tiga tahun itu. Tidak banyak yang berubah dari rumah ini, hanya terdapat pohon-pohon baru yang tumbuh di samping halaman. Tapi, mengapa ada banyak orang di halaman rumahku? Apakah Randu telah mempersiapkan sebuah acara penyambutan yang meriah buatku? Seharusnya ia tidak perlu serepot itu, aku cukup senang hanya dengan melihat keluarga kami bisa berkumpul bersama seperti dulu lagi. Tapi, bukankah Randu tidak mengetahui tentang kepulanganku, kemarin aku tidak membalas sms darinya. Lalu, apa yang terjadi?
Aku segera masuk, orang-orang melihatku dengan tatapan yang aneh. Aku harus minta penjelasan mengenai hal ini pada Randu. Kemudian aku melihat adikku itu sedang berdiri sambil menunduk di depan pintu.
“Randu! Ada apa ini, mengapa orang-orang berkumpul di rumah kita?” aku berseru sambil menurunkan tas bawaanku. Aku kaget, ketika Randu memelukku.
“Ada apa, Ndu?” tanyaku penasaran. Tidak biasa-biasanya ia melakukan hal seperti ini terhadapku.
“Ibu, Mba.” Ia berkata dengan suara serak.
“Ibu kenapa?” aku masih belum mengerti tentang semua ini.
“Ibu meninggal, Mba. Tadi pagi ibu jatuh dari kamar mandi, dan meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Mba kan tahu, kalau ibu memiliki sakit jantung. Aku sudah menghubungi Mba, tapi nggak bisa. Mobil jenasah rumah sakit yang membawa jenasah ibu, sedang dalam perjalanan. Kita harus tabah, Mba.”
Entah apa lagi yang diucapkan oleh adikku, aku tidak bisa mendengarkannya dengan jelas. Otakku berdenyut keras, aku kesulitan untuk mencerna perkataan Randu. Jantungku berdebar kencang. Tidak mungkin ini terjadi. Mungkin aku hanya bermimpi, aku hanya perlu terbangun untuk mengakhiri mimpi buruk ini. Tapi aku tahu, aku sedang tidak bermimpi. Tuhan, mengapa ini terjadi padaku? Hatiku terasa perih, hingga aku menangis tanpa mengeluarkan air mata. Kemudian aku tidak bisa merasakan apa-apa, kecuali gelap yang menyelimuti penglihatanku.
Aku sedang tidak sadarkan diri, tetapi aku bisa melihat wajah ibu yang sedang tersenyum kepadaku. Ibu, jangan tinggalkan Rinjani. Rinjani menyesal, kembalilah kepadaku, Bu. Aku mohon! Kemudian, dengan bercucuran air mata, aku berbisik, Ibu…maafkan Rinjani.