Feed on
Posts
comments

solo, dengan senja

Sore tadi kasihku mengirim sebuah amplop yang dari sudut-sudutnya terpancar sedikit cahaya. Seorang pemuda yang terlihat gesit dan cekatan, mengantarkannya untukku, katanya dari seseorang yang sangat merinduku di ibu kota. Aku bilang terima kasih dan maaf sudah merepotkan. Dia bilang tidak apa-apa, dia senang membantu. Sebelum berpamitan ia sempat mengucapkan sebuah nama: Sukab.

Setelah kubuka, maka terkejutlah aku menemukan sepotong senja yang dilipat menjadi empat menyeruak dari dalam amplop. Senja sebesar kertas berukuran A3 menari-nari di depan wajahku. Begitu hangat dan sangat jingga. Aku terkagum-kagum, senja sekecil itu ternyata mampu menghias Solo yang berawan. Memberi sinaran di antara langit hitam. Membuat raut bahagia di wajah ibu-ibu di sekitar kompleks, lega karena ada kemungkinan cucian kering, lega karena listrik tidak jadi padam seperti malam sebelumnya.

Jingga seukuran A3 itu juga menghibur para gadis, yang ragu akan hujan yang menghentikan langkah para kekasih yang berencana bertemu di teras nanti malam.

Aku sungguh bahagia dengan hadiah itu. Kekasihku yang satu itu memang serba pengertian. Meski 150 malam telah berlalu tanpa kecupan, tapi kiriman senja itutelah menghapus segala ragu yang terkadang menggoda untuk diungkapkan.

Kasihan juga Jakarta sore itu. Pasti orang-orang di sana kebingungan, mengapa senja mereka tidak utuh? Kenapa senja sebesar A3 bisa menghilang? Malah kekasihku mengatakan bahwa tadi sore Jakarta bertambah muram, selain kemacetan, senja yang hilang sebagian berarti tidak menggenapkan senja mereka. Hari ini, orang-orang Jakarta tidak memiliki senja. Dan aku hanya tertawa, membayangkan wajah kasihku, sambil memeluk erat senjaku itu.

merindu

dan aku masih saja berujar egois saat menanyaimu perihal kepulangan. dan kau pun ragu tuk menjawab. takut sakiti aku. takut kecewakan aku. takut aku menangis. dan memang ak menangis. mencoba relakan. mencoba bertahan. mencoba rinduimu tiap hujan. mencoba ingatimu dalam pagi yang terang. mencoba basahi imaji tentang pertemuan. menemukan senyum. menemukan letih. menemukan bahagia. menemukan cinta. menemukan kamu.

solo, tentang merindu

renungan kemarin hari

Selasa Malam, 160908

Malam ini dingin menusuk dengan sangat. Tampaknya angin mulai mengakrabi sang malam. Seperti ak yang ingin juga mengakrabi ingatan tentang kematian yang cepat atau lambat pasti akan menghampiriku.

Ak ingat, beberapa hari yang lalu, ak disibukkan dengan rencana-rencana tentang hari esok. Begitu banyak agenda, janji, rencana di hari yang belum tentu datang menyapa. Dan ak sadar, bahwa telah lama ak tidak mengingat kematian. Padahal ia tidak pernah terlalu jauh dari posisi kita berdiri sekarang.

Betapa sempitnya waktu yang mungkin ak punyai, ak tidak tahu kapan. Ak jadi ingin membahagiakan orang di sekitar, namun ak juga lebih sering lupa akan hal itu. Karena ak dengan sombongnya merasa yakin masih ada kesempatan untuk meminta maaf akan salah yang terbuat, di hari esok tentu saja. Ak sering lupa bahwa manusia tidak punya kuasa apa-apa akan hidupnya.

Dan kabar duka pagi ini, kembali mengingatkanku akan lamunan hari kemarin.

Kepada alm. Rani Widhi, sahabat kita semua, Semoga Amal Ibadahmu diterima di sisi Alloh SWT, amin yaarobbal’alamin…selamat jalan kawan, senyummu akan selalu diingat banyak orang..

Bangkitnya Aksara Jawa

Bangkitnya Aksara Jawa

Ha na ca ra ka, dha ta sa wa la, pa da ja ya nya, ma ga ba tha nga

Apakah Anda masih ingat untuk menuliskan aksara Jawa? Mungkin Anda akan sedikit mengerutkan dahi untuk mengingatnya. Tampaknya saat ini, para kaum muda Jawa memang sedikit melupakan warisan budaya yang satu ini. Karena, selain rumit, kurangnya aplikasi pada kehidupan sehari-hari membuat aksara Jawa sedikit terlupakan. Namun, Pemkot Solo mencoba untuk memberikan solusi dengan kebijakan penggunaan aksara Jawa pada identitas instansi negeri dan swasta.

Solo sebagai kota budaya memiliki keanekaragaman kebudayaan yang merefleksikan slogan Solo the spirit of Java. Salah satunya adalah aksara Jawa yang merupakan salah satu identitas budaya Solo yang perlu dilestarikan agar tidak punah. Dalam hal ini, rupanya Pemerintah kota Solo memiliki itikad baik dalam upaya menuju hal tersebut. Mulai tahun 2008, Pemkot memberlakukan kebijakan penggunaan aksara Jawa pada bangunan publik di Solo, seperti: sekolah, instansi pemerintah dan swasta termasuk pusat bisnis dan perekonomian.

Hal ini ditegaskan Walikota Solo, Joko Widodo ketika ditemui KALA di Loji Gandrung beberapa waktu lalu.

”Pada tahun 2008 nanti, seluruh kantor pemerintah, termasuk sekolah dan rumah sakit, juga perbankan dan perusahaan-perusahaan swasta wajib menggunakan aksara Jawa sebagai identitas bangunan,” terang Joko Wi.

Penulisan aksara Jawa tersebut akan diatur dalam Peraturan Walikota yang hingga saat ini masih dalam tahap penggodokan oleh tim formatur Perwali. Dalam peraturan tersebut juga akan ditetapkan sanksi bagi pihak-pihak yang menolak menggunakan aksara Jawa sebagai identitas bangunan.

Aksara Jawa akan ditulis lebih besar dan terletak di atas aksara latin dari setiap nama bangunan. Setiap penulisan aksara Jawa akan melalui konsultasi terlebih dahulu dengan Komite Basa Jawi agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan. ”Kami telah bekerja sama dengan Komite Basa Jawi dalam hal penulisan, jangan sampai terjadi kekeliruan karena aksara Jawa juga termasuk identitas budaya kita,” jelas Joko Wi.

Sosialisasi penggunaan aksara Jawa ini sudah dilakukan pemkot sejak akhir tahun 2007. ”Untuk di kantor-kantor pemerintah sudah kita lakukan sosialisasi sejak November lalu, dan bulan Januari ini kita mulai sosialisasi ke pihak swasta.”

Penggunaan aksara Jawa ini merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya Jawa yang dilakukan oleh pemkot Solo. Menurut Joko Wi, penggunaan aksara Jawa pada bangunan-bangunan publik adalah untuk semakin memperkuat dan meempertegas karakter Solo sebagai kota budaya.

Namun ternyata rencana penetapan peraturan penggunaan aksara Jawa ini masih menghadapi kendala. Konsep penulisan aksara Jawa yang lebih besar dan terletak di atas aksara atau nama latinnya ternyata berbenturan dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. Menurut peraturan ini tulisan aksara Jawa harus lebih kecil dari aksara latin (45 persen dari besar aksara latin, red) dan letaknya harus di bawah tulisa latin. Peraturan ini berlaku bagi semua instansi pemerintahan.

Winarso Kalinggo, budayawan Solo menambahkan bahwa jangan sampai kebijakan ini hanya menjadi usaha pemerintah sendiri dalam melestarikan budaya. ”Mudah-mudahan kebijakan yang sudah memperlihatkan betapa pemkot peduli terhadap pelestarian budaya ini diikuti juga oleh masyarakatnya. Jangan sampai hanya pemerintah saja tapi kita sendiri tidak mau tahu, karena pada hakikatnya budaya dapat dikatakan masih tinggi ketika jiwa budaya itu sudah benar-benar melekat pada tiap individu dari masyarakat,” ungkapnya.

Mulai ditinggalkan kaum muda

Di usianya yang sudah cukup tua ini, kota Solo semakin sulit menggapai para generasi muda. Budayanya yang sudah mengakar kuat semakin ditinggalkan. Mereka terutama tidak mengerti, bahkan mengenal, bahasa dan aksara Jawa itu.

Wong Jowo kok ora njawani”. Menjadi ungkapan yang sering terlontar dari orang-orang tua ketika teman ngobrolnya tidak mengerti maksud dari kata-kata dalam bahasa Jawa, terutama jika lawan bicaranya adalah anak-anak muda.

Eta dan Siska, mahasiswa UNS, dengan tersipu-sipu malu, mengaku sudah tidak bisa lagi mengingat bagaimana menulis aksara Jawa ataupun berbahasa Jawa halus. “Di zaman saya SMA sudah tidak ada lagi pelajaran bahasa Jawa. Karenanya, saya sudah tidak terbiasa dengan bahasa Jawa,” ungkap Siska.

Bahasa Jawa yang terbagi ke dalam beberapa tingkatan, yaitu Ngoko, Madya, dan Krama, serta banyaknya ragam aksara Jawa yang perlu dipelajari seringkali menjadi alasan mereka sulit mempelajari bahasa Jawa. Selain itu bentuk-bentuk aksara Jawa yang rumit, juga membuat kaum muda ini tidak menaruh perhatian pada aksara Jawa. Hal ini karena tak banyak dari mereka yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal seharusnya menjadi harta yang tetap dijaga dan dilestarikan sepanjang masa, bukannya dibiarkan memudar.

Dengan adanya kebijakan penulisan aksara Jawa ini, diharapkan masyarakat Solo pada khususnya, tidak melupakan aksara Jawa. Sehingga dapat lestari dan menjadi ikon kota yang unik dan tidak terlupakan. Karena bagaimanapun juga kota Solo merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa yang harus tetap dijaga ke’Jawa’annya. Namun, jangan sampai langkah ini hanya merupakan usaha pelestarian pemkot Solo sendiri, tanpa adanya kesasdaran dari masyarakat untuk ikut melestarikan budaya Jawa. Akan sangat ironis, jika penggunaan aksara Jawa pada identitas bangunan instansi negeri dan swasta hanya menjadi ‘lambang’ semata. (Anita Widya)

Wayang Orang Sriwedari, Ikon Kota yang Terpinggirkan

Kondisi wayang orang Sriwedari Solo, kini semakin memprihatinkan. Bukan hanya penonton yang nyaris tidak pernah memadati setiap pertunjukan, tetapi kesan sebagai kesenian yang pernah menjadi indikator kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa pun tak nampak lagi. Meski setiap malam berlangsung pentas wayang orang, namun suasana seakan terkesan ‘apa adanya’, seperti mati segan hidup tak mau. Lalu bagaimanakah peran pemerintah kota Solo sebagai pihak pengelola?

Sepinya pengunjung membuat kesenian wayang orang Sriwedari mulai terancam keberadaannya. Dalam pertunjukan kamis malam pekan lalu, Fokus 7 hanya menjumpai kurang dari sepuluh orang yang mengunjungi Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari. Padahal kesenian ini pernah mengalami kejayaan pada era 60-an hingga pertengahan 80-an dengan jumlah pengunjung 2000 orang perbulannya. Namun saat ini di setiap pagelaran, jumlah pengunjungnya dapat dihitung dengan jari, meski harga tiket tak lebih dari 3000 rupiah.

Kondisi memprihatinkan ini juga dipaparkan Diwasa, S. Sn, pimpinan GWO Sriwedari. “Sekarang ini GWO sedang dalam masa sulit, tiap malam penontonnya sangat sedikit, bahkan beberapa kali pernah tidak ada penontonnya sama sekali. Hanya pada malam minggu yang agak rame.”

Menurut Tugimin (56), salah satu budayawan kota Solo menjelaskan penyebab sepinya pengunjung GWO karena perkembangan kesenian lain yang lebih ‘menghibur’. “Saat ini anak muda lebih menyukai hiburan-hiburan yang bersifat modern, misalnya menonton film di bioskop. Perkembangan jaman yang melahirkan berbagai fasilitas, juga membuat kesenian wayang orang ditinggalkan.”

Selain itu, Tugimin juga menilai bahwa kualitas pertunjukan juga mengalami penurunan dibandingkan tahun keemasannya terdahulu. “Dulu, para pemain sangat disiplin dalam melakukan memerankan lakonnya, dan saya kira saat itu lakon-lakonnya cukup memenuhi pakem. Setiap pertunjukan berdurasi 4 jam, sedangkan sekarang kurang dari 2 jam saja,” ujarnya.

Diwasa menjelaskan bahwa pengurangan durasi dilakukan karena sepinya pengunjung saat ini.”Jika kita pakai durasi lama, maka akan semakin sedikit yang nonton. Jadi, kita persingkat waktunya, namun tetap memenuhi pakem yang ada.” Ia juga tidak menampik adanya penurunan kedisiplinan dari pihak pemain, “Pemain sekarang tidak segigih tempo dulu, jamannya Darsi “Pergiwa” (pemain legendaris GWO Sriwedari, red). Sekarang untuk pembagian peran saja sangat mepet sehingga jarang ada briefing terlebih dahulu.”

Namun, alumni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini juga menjelaskan bahwa mood pemain juga tergantung dari jumlah penonton sendiri. “Kalau jumlah penontonnya banyak, kami juga jadi semangat mainnya. Tapi kalau sepi, rasanya ingin segera menyudahi pertunjukan itu,” ungkapnya.

Beberapa pemain memang sering mengalami kebosanan ketika pertunjukan yang mereka gelar dengan penuh persiapan hanya ditonton oleh tidak lebih dari sepuluh orang. Untuk mengatasinya Diwasa sering melakukan pendekatan personal kepada pemain dan memberikan dukungan dan semangat. “Bosan itu wajar Mbak, apalagi kalau ngga’ ada yang nonton. Tapi kita selalu berusaha untuk membangkitkan semangat mereka karena kita mencintai kesenian ini.”

Menurut Agus Prasetyo, salah satu pemain wayang orang yang sudah tujuh tahun menjadi anggota wayang orang Sriwedari ini mengaku tidak menyerah pada keadaan ini. Meski ia merasa kerja keras yang dilakukan para pemain wayang orang setiap harinya dirasa kurang mendapatkan penghargaan maupun perhatian lebih dari masyarakat. “Setiap hari penontonnya sepi, kalau ada 10 orang itu sudah ramai,” ungkapnya. Keadaan itulah yang terkadang mempengaruhi suasana hati para pemain, tak terkecuali Agus.

Berbeda dengan Irwan Damasto (17), salah satu pemain yang masih duduk di bangku SMU mengaku tidak menanggapi rasa bosan yang datang karena sepinya penonton, ia lebih suka melakukan kesenian ini untuk mengeksplor kemampuannya di bidang tari. “Saya terkadang kecewa juga kalo ngga’ ada yang nonton, kok kayaknya orang-orang ngga’ menghargai kesenian sendiri. Tapi pengalaman ini saya anggap sebagai ajang latihan untuk bakat yang saya punya. Saya sudah bangga bisa menjadi bagian dari wayang orang Sriwedari, meski tidak dibayar, karena saya masih magang,” jelasnya panjang lebar.

Menyangkut permasalahan gaji, dari 85 anggota kelompok wayang orang Sriwedari, 90 persen diantaranya sudah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), sisanya masih sebagai tenaga honor. Hal ini merupakan kebijakan dari pemerintah yang ingin menyejahterakan para seniman. Sebelum kebijakan itu turun,.kesejahteraan anggota kelompok wayang orang sriwedari boleh dibilang sangat memprihatinkan. “Kita dulu, cuma dapat penghasilan dari hasil penjualan tiket dan kalau yang pegawai honorer cuma ketambahan beberapa ribu saja,” ungkap Diwasa.

Diwasa juga menambahkan, memasuki pemerintahan Joko Wi, kesejahteraan anggota kelompok wayang orang sriwedari ini mulai meningkat, semua anggota yang masih honorer diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, tapi bagi anggota yang berumur lebih dari 46 tahun masih menjadi pegawai honorer. Anggota kelompok tersebut berjumlah 85 orang, dari jumlah itu termasuk begian kebersihan dan anggota karawitan.

Pemerintah kota Solo memang dinilai sudah peduli terhadap masalah kesejahteraan anggota kelompok wayang orang ini, tapi perhatian pemerintah terhadap masalah kualitas, dinilai Diwasa masih kurang. “Hal ini terjadi karena ada penerimaan pegawai yang tidak sesuai dengan kriteria yang ada pada kelompok ini. Pemerintah dalam menerima pegawai hanya melihat latar belakang pendidikannya dan asal mereka lulus tes tertulis, pemerintah langsung memasukkan mereka menjadi bagian kelompok wayang orang ini, tidak melihat apakah mereka memiliki bakat dalam kesenian wayang orang,. Hal ini juga menjadi salah satu penurunan kualitas pertunjukan.” Jelasnya.

Kurang sosialisasi

Beberapa cara telah ditempuh oleh pihak GWO dalam menarik jumlah pengunjung, salah satunya adalah dengan publikasi lewat beberapa media. “Selain lewat woro-woro (papan pengumuman, red), kami juga mempublikasikan lewat Solopos dan radio Swara Graha. Namun jumlah pengunjung masih tidak mengalami peningkatan yang drastis.”

Ketika ditanya mengenai bagaimana peran pemerintah kota Solo sebagai pihak pengelola Sriwedari, dalam membantu sosialisasi, Diwasa menjelaskan, “Pemerintah cukup berperan dalam hal sosialisasi, namun masih sebatas pencantuman GWO Sriwedari dalam jurnal-jurnal wisata kota solo, ataupun brosur perjalanan saja. Selebihnya kami (pengurus, red) yang berusaha sendiri dengan mengundang sekolah-sekolah seperti SD, SMP, dan SMU. Hal ini kami lakukan untuk memperkenalkan kesenian wayang orang pada generasi muda.”

Agus, pemain wayang orang Sriwedari menyatakan, bahwa promo melelui media massa harus tetap dilakukan, tapi pemerintah harus menambah promosi ke hotel dan biro pariwisata. “Di koran dan radio sudah, tinggal di hotel dan biro-biro wisata yang belum terjangkau,” ungkap lulusan STSI Solo ini.

Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya (Diparsenbud), Handartono menyebutkan dalam hal sosialisasi, selain dengan memasang publikasi di media, pihaknya juga membagikan tiket pertunjukan wayang orang kepada para pegawai pemkot. “ Kami memberikan tiket agar tiap malamnya jumlah pengunjung bisa meningkat sekaligus mengajak para pegawai dan keluarga untuk mengenal lebih dekat kesenian ini. Namun, untuk mereka (para pegawai pemkot, red) datang atau tidak, itu tergantung mereka sendiri. Kami tidak berhak untuk memaksa,” jelasnya.

Namun, Diwasa sempat menjelaskan bahwa perhatian yang pemerintah berikan saat ini semakin berkurang bersamaan dengan berkurangnya minat masyarakat terhadap kesenian ini. “Sebenarnya sulit menentukan siapa yang lebih dulu meninggalkan (melupakan, red) kami, apakan masyarakat dulu, atau pemerintahnya. Saya ingat dulu di masa Soeharto, apresiasi pemerintah terhadap wayang orang masih tinggi, hal ini juga diikuti oleh animo masyarakat yang berkunjung meningkat.”

Diwasa juga menambahkan, seharusnya pemerintah lebih proaktif dalam mensosialisasikan GWO Sriwedari, misalnya dengan mempromosikan kesenian wayang orang secara lebih gencar lagi. “Yang penting penanaman rasa peduli seni pada masyarakat Solo dulu, jika sudah kuat maka sosialisasi yang keluar lebih diperkuat lagi. Karena selama ini wisatawan dari luar hanya kebanyakan berkunjung pada sabtu malam, sedangkan malam-malam sebelumnya sangat sepi,” ujarnya. Ia juga berharap agar pihak pemerintah selain memberikan perhatian berupa materi, juga menunjukkan minatnya pada kesenian ini dengan menyaksikan pertunjukan wayang orang..

Menurut Tugimin, memang tidak mudah untuk menghidupkan GWO lagi di tengah-tengah menjamurnya bioskop dan kafe-kafe tempat nongkrong anak-anak muda. Namun perhatian, peranan dan bantuan dari pemerintah setidaknya mampu membuat GWO dan seniman-seniman yang barnaung di dalamnya mendapatkan hak yang layak sesuai dengan pengabdian yang telah mereka berikan. (Anita, Ichi)

Jembatan Baru Mipidan: Antara Untung dan Rugi

Pembangunan sebuah jalan, sedikit banyak akan membawa harapan akan keterbukaan akses masyarakat ke daerah luar. Keterbukaan akses diyakini mampu merubah kondisi perekonomian warga sekitar. Seperti pembangunan Jalan dan Jembatan Mipidan yang telah membuat warga Gulon selatan yang semula terisolir menjadi lebih terbuka. Warga merasa diuntungkan dengan naiknya harga tanah, jalanan mulai ramai, bisa kemana saja dengan mudah, semua serba enak, kurang apalagi? Namun, ada juga warga yang tidak rela ketika tanah mereka harus berkurang dan tepian jalan yang terlalu mepet dengan pintu rumah mereka.

Mipidan adalah sebuah desa yang terletak antara Jebres dan Mojosongo. Meskipun bisa dikatakan lebih dekat kearah kota –Mojosongo—tetapi desa ini masih terkesan sebagai sebuah desa yang terpencil dan jarang terjamah. Bagaimana tidak, akses untuk menuju ke desa ini memang sulit. Selain jalan yang harus dilalui sempit dan berbatu-batu serta tidak rata, satu-satunya jembatan penghubung yang bisa dilalui oleh masyarakat Jebres untuk menuju ke Mipidan pun sangat kecil dan hanya cukup untuk dilewati sebuah sepeda atau motor saja.

Menurut Joko Hartono, Ketua RT 5 Gulon Selatan, Sebelumnya, warga Gulon harus mengambil jalur yang lebih jauh ketika akan pergi ke Jebres. “ Sangat tidak efisien, karena selain jauh, jembatan yang ada terlalu sempit. Untuk melaluinya saja harus antri karena hanya bisa dilewati satu kendaraan motor saja,“ ungkapnya.

Keterbatasan akses ini, membuat masyarakat Mipidan yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani ini, jarang melakukan sosialisasi dengan warga masyarakat di desa lain. Ironisnya, sebuah desa yang termasuk wilayah Gulon tidak saling mengenal karena terpisahkan oleh sebuah sungai yang cukup besar. Warga daerah Gulon yang berbatasan langsung dengan Mipidan disebut-sebut masyarakat Gulon yang berbatasan langsung dengan Ngoresan sebagai Lor Kali.

Masyarakat desa Gulon Kidul (selatan) mengakui bahwa masyarakat desa Lor Kali (utara sungai) dan Kidul Kali (selatan sungai) itu tidak saling mengenal. “Daerah utara sama selatan itu dulunya sebelum ada jembatan itu tidak saling mengenal, karena tidak pernah bertemu. Padahal ya masih satu desa, “ ujar Joko Hartono

Joko menambahkan, pembangunan jembatan dan jalan tersebut, membuat perekonomian warga Gulon dapat meningkat. “Kalau jalan ini sudah diselesaikan, besar kemungkinan harga tanah di lingkungan ini (Gulon, red), akan naik. Sehingga perekonomian warga dapat meningkat pula. Selain itu akses ke tempat kerja juga bisa lebih mudah dan hemat BBM.”

Hal senada diungkapkan oleh Wartono, warga desa ngemplak yang sedang duduk-duduk di sekitar jembatan mipidan. “Wah, saya sangat mendukung Mbak, wong sekarang saya jadi lebih cepat sampai ditempat kerja. Selain mudah, kan kita juga bisa irit bensin. Apalagi katanya sebentar lagi BBM naik,” ungkapnya.

Dari hasil penelusuran PERSPEKTIF, sebagian besar warga Gulon Selatan merasa diuntungkan dengan proyek pembangunan jalan dan jenbatan ini, karena mereka tidak harus kehilangan tanah mereka. Hal ini berbeda dengan pendapat beberapa warga Gulon Utara, meski pihak pemkot Solo membeli tanah warga dengan harga tinggi, namun sebagian dari warga juga merasa kecewa karena tanah mereka harus berkurang.

Menurut Temu, salah satu warga Ngoresan yang sedang membangun rumah di tepi jalan Mipidan mengaku kecewa dengan pembangunan jalan ini. “Sebelumnya saya tidak mengira kalau tepi jalanan sangat mepet dengan pintu rumah. Karena dulu sudah pernah ditandai dan itu tidak mepet dengan rumah. Tapi setelah dibangun, saya malah jadi nggak punya teras,” jelasnya ketika ditemui di sela kesibukannya membangun rumah (22/5).

Temu mengaku mendapat ganti rugi dari pemerintah sebesar Rp. 1.250.000/m2, meski harga tanah cukup tinggi namun ia merasa rugi karena tanahnya semakin sempit. “Ya kalau ditanya untung apa rugi, menurut saya pribadi lebih banyak ruginya. Walaupun harga tanah naik dan jalanan menjadi ramai, tapi tanah saya tambah sempit. Padahal anak saya sudah banyak,” ungkapnya.

Temu menambahkan, tepian jalan yang terlalu dekat dari pintu rumah dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pemilik rumah. “Dulu setelah ada sosialisasi akan dibangun jalan, sudah saya beri jarak 1 meter dari jalan, tapi setelah pembangunan malah tinggal seperempat meter saja. Terus terang sangat mepet dengan jalan, kasihan anak saya masih kecil-kecil.”

Hal serupa juga diungkapkan oleh Condro Trihatmojo, warga Gulon Utara yang rumahnya juga tepat di tepi jalan Mipidan, “Sebenarnya cukup beresiko, karena rumah saya terlalu mepet jalan, sehingga agak tidak nyaman. Kalau boleh milih, saya lebih suka tidak usah dibangun jalan besar saja. Tapi apa boleh buat, kami cuma wong cilik,” ungkapnya ketika ditemui di rumahnya (18/5).

Condro berharap daerahnya bisa lebih maju dan perekonomian warga meningkat. “Yang penting jalan ini tidak diperlebar lagi, karena tanah saya sudah sempit. Sekarang saja, saya masih bingung membuat tempat parkir sepeda motor, karena sudah nggak ada lahan lagi.”

Hal senada diungkapkan Srianto, warga Gulon yang juga bertempat tinggal tepat di sisi jalan. “Selain bahaya, bentuk bangunan rumah saya jadi tidak jelas, karena ada pengurangan lahan di rumah bagian depan. Sekarang sudah tidak ada halaman, pintu rumah juga hanya berjarak setengah meter dari jalanan. Apa nggak miris itu?,” tuturnya ketika ditemui sabtu sore (22/5) dirumahnya.

Srianto mengeku tidak tahu kalau jalan (Mipidan, red) ini akan dilalui bus-bus besar antar propinsi. “Wah, kalau begitu, saya jadi nggak setuju Mbak, karena jalanan terlalu mepet rumah warga, selain itu di sini juga banyak anak-anak kecil. Pasti tidak aman nantinya, apalagi bus anatar propinsi kan jalannya nggak pelan,” ujarnya.

Meski sebagian besar warga mengaku terbantu dengan adanya pembangunan jalan dan jembatan Mipian, namun sebagian warga yang terkena imbas langsung dari proyek pemerataan akses ini mengaku cukup dirugikan. Karena tidak adanya sosialisasi tentang lebar jalanan yang akan dibangun, sehingga warga yang tinggal di tepi jalan terpaksa harus rela rumahnya menjadi sempit dan terancam rawan kecelakaan. (Anita wp)

unwanted

Unwanted

Ak ingin pulang dalam pelukmu

Meski tlah lama kau merapat pada dinding, nempel kaya cicak.

Kubersiul, upaya sadarkanmu untuk melepaskan telapak tangan

yang sedari tadi mengetat, acuhkan aku.

Ak ingin pulang dalam hangatmu, di luar hujan melunturkan pasir di halaman

Pintu kau tutup sudah sedari petang, ak kedinginan.

Mari, cobalah liat ke jendela, ak meringkuk memeluk lutut

Rokku basah, rambutku lepek dan kusut.

Dan tak sekalipun kau lepas dari dinding,

Ataupun keluar melihat halaman.

Jumat sore penuh angin, 120908

2moro never die

Tentang Esok

Oleh: Anita Widya

Aku menganggap bahwa esok adalah segenggam harap yang aku yakin pasti akan datang. Dan penuhi janjinya padaku. Pasti. Manusia sepertiku hanya mampu berpikir urusan apa yang bisa kuselesaikan esok, atau lusa, atau minggu depan. Tanpa sedikitpun merasa bahwa ada kemungkinan, entah berapa persen, bahwa bisa saja hari esok yang selama ini kuyakin akan selalu datang tiba-tiba urungkan niatnya, lalu memutuskan untuk tidak menghampiriku lagi. Sebab itu terkadang aku juga tidak pernah mengingat tentang apa yang kuperbuat di hari yang telah lalu. Karena yang penting masih ada hari ini, juga esok itu.

Selalu kuingatkan diriku bahwa esok adalah tujuan untuk kukepalkan jemari, bersiap bikin kebaikan, tepati janji pada sejumlah kawan atau rekan, juga tanam keyakinan bahwa aku takkan mengulang kesalahan yang telah kulapiskan pada perjalanan hidup.

Tapi, yang tak kumengerti adalah tetap saja aku merasa bahwa esok telah permainkanku. Selalu beriku kesempatan untuk kembali pada suatu masa yang sama, suatu aroma ruangan yang sama, nuansa yang serupa, juga desah napas yang selalu membawaku pada alur penuh, semaikan hasrat seirama yang kemudian hanya bisa sisakan tangis di sudut matanya. Bulir cair yang mengalir itu tak pernah kubayangkan mampu mengaduk seluruh isi jiwaku. Menjadikannya gumpalan yang kusangkal sebagai sesal, kutampik sebagai takut yang pelik. Hanya Tuhan yang tahu tentang gumpalan-gumpalan itu, yang kian hari membesar memadati ribuan pembuluh darah, lalu perlahan menjadi racun.

Apakah esok benar-benar telah menipuku dengan janji-janji yang telah dipersembahkannya kepadaku? Meskipun aku juga tidak begitu yakin kapan esok meniupkan janji memabukkan itu. Atau aku hanya berimajinasi tentang harapan-harapan? Tentang suatu peristiwa yang bisa kapan saja kuulang, lalu kuhapuskan, lalu terulang, lalu hapus, ulang, hapus, ulang, hapus…

Selalu saja berulang kesalahan yang sama, selalu kumasuki ruang yang sama, menghirup udara yang juga sama, setelah kemudian aku menoreh indah yang sama persis juga menyisakan kacakaca di bola matanya. Tak perlu kujelaskan betapa aku sangat mengharap pada esok, semua begitu gamblang. Bahwa esok selalu tawarkan sesuatu yang menjanjikan kesempatan kedua, atau mungkin juga banyak kesempatan yang selama ini tidak sering hanya menjadi sia-sia. Lalu bagaimana jika esok berkhianat? Melenggang dengan santai tinggalkan tangan-tangan yang harapkan kesempatan berikutnya, peluang yang mungkin menyertainya. Matikah kita? Kukira takkan segampang itu. Masih ada serentetan kutukan yang enggan kusebut penyesalan, hanya malu. Pada Tuhan.

Kemudian samar kudengar mulutku mengucap sumpah yang sama seperti yang lalu, yang selalu diiringi haru yang kuciptakan sendiri, berkali-kali. Esok takkan lagi terulang, atau kan kulihat pipi perempuan itu berlinang.

nyadran=food gathering

Kamis malem..280808

Hari ini seru banget deh..pertama kali diajakin acara ‘nyadran’..

Ya kayak syukuran sebelum puasa gt.

Ada banyak makanan dan kita rebutan. Ada buah, nasi, telor asin, daging ayam…

Wah, pokonya hari ini kenyang banget..

Banyak ketawanya daripada mikirnya..hahaha

Barusan ak makan lagi, beli nasi hik ma tempe bacem.

Ga tau kenapa rasanya tetep enak. Dan ak bersyukur banget atas semuanya.

Entah kenapa ak seperti anak baru kuliah ketika tadi beli di hik ams slamet. Rasanya semangat anak baru yang ak punya dulu, kembali lagi.

Saat dimana ak baru kuliah, baru kos, baru punya uang sendiri, belom punya pacar, kemana2 sendirian..yah rasanya seperti itu.

Semangat dan bebas luar biasa..

Ak ingin tetap seperti itu..

Sekarang ak dah hampir merasa tidak punya pacar…bebas ngapa2in..

Yang kurang adalah semangatku untuk menulis puisi..

Mungkin besok akan kucoba sekali lagi…

janji rinjani

Janji Rinjani

Pagi ini, entah bagaimana aku sudah mendapati diriku sedang duduk di salah satu bangku peron stasiun. Yang kuingat hanyalah isi sms dari adik semata wayangku, Randu.

“Mba, kapan pulang ke Blitar? Randu kangen, cepat pulang ya Mba.”

Aku tertegun ketika membacanya tadi malam. Aku ragu, haruskah aku pulang hanya karena Randu sedang merindukanku? Tidak. Aku harus pulang dengan alasan yang tepat. Aku sudah berjanji untuk tidak pulang sebelum meraih gelar sarjana. Sejenak aku terdiam, mencoba meresapi apa yang kurasakan. Kemudian aku sadar, aku juga merindukan Randu. Mungkin aku memang harus pulang. Tapi, inikah yang kuinginkan, pulang ke rumah dan bertemu dengan Ibuku? Sebelumnya, aku tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan Ibu secepat ini, setelah pertengkaran kami pada malam sebelum keberangkatanku ke Solo. Ibu tidak setuju dengan pilihanku untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi Massa.

“Ibu tidak setuju kamu mengambil jurusan itu. Kamu akan jadi apa setelah lulus?” kata ibu waktu itu, sambil menunjukkan mimik tidak senangnya.

“Rinjani ingin jadi wartawan.” Sahutku dengan tegas. Aku ingin menunjukkan keseriusanku.

“Apa kamu bisa? Kamu sanggup? Jadi wartawan itu bukan untuk main-main, bukan untuk gaya. Wong kamu bisanya cuma main sama teman-temanmu yang nggak jelas itu. Kamu itu…”

Aku segera memotong pembicaraan ibuku. “Itu dulu, Bu. Sekarang usia Rinjani sudah delapan belas tahun, sudah saatnya Rinjani untuk menentukan masa depan sendiri.” Jawabku dengan kesal.

Sambil menghembuskan nafas, ibu berkata, “Yo wis, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi jangan salahkan ibu kalau terjadi sesuatu.”

“Apa maksud Ibu dengan sesuatu? Sesuatu apa? Rinjani sudah siap dengan segala resiko yang akan terjadi.” Sahutku. Aku merasa ibu seperti meragukan kemampuanku hanya karena sifatku yang suka seenaknya.

“Solo itu jauh, apa kamu sanggup?” tanya ibu waktu itu. Pertanyaan itu semakin menunjukkan kesangsiannya terhadapku.

“Rinjani sanggup,” sahutku tanpa ragu-ragu. “Ibu jangan menyangsikan kemandirian Rinjani, Rinjani sudah dewasa. Ibu tahu itu kan?” kataku. Saat itu aku sedang mencoba untuk menegaskan niatku.

“Ibu tahu. Tapi ibu yakin, belum genap seminggu kamu di sana, kamu akan merindukan rumah dan menyesal dengan keputusan yang telah kamu ambil.”

Aku terdiam, mencoba mencerna kata-kata ibu. Kemudian aku menarik nafas dan berkata, “Tidak akan. Rinjani berjanji tidak akan kembali ke rumah, sebelum meraih gelar sarjana.”

Kemudian aku berangkat dengan perasaan galau. Kenapa ibu tidak mempercayaiku? Kenapa ibu tidak seperti ayah yang selalu mendukung keputusanku? Aku tidak habis fikir, mengapa ibu bersikap seperti itu kepadaku. Apakah salah jika aku ingin mandiri? Baiklah, aku akan menunjukkan keseriusanku dalam hal ini. Aku berjanji tidak akan kembali ke rumah sebelum meraih gelar kesarjanaanku. Tekadku sudah bulat, tidak ada yang bisa menghalangi kepergianku.

Namun, benar apa yang dikatakan oleh ibu. Belum genap satu minggu aku di Solo, aku sudah merindukan rumah. Sebisa mungkin kutahan rasa rindu itu selama tiga tahun, aku tidak mau melanggar janjiku. Akan kubuktikan pada ibu, bahwa aku tidak seperti apa yang difikirkannya.

Jika aku mengingat pertengkaran itu, aku merasa ibu tidak pernah mempercayaiku. Semalam aku sudah memutuskan untuk tidak pulang. Namun kenyataannya, pagi ini aku sudah berada disini, duduk terdiam menanti kereta datang. Lalu ini apa? Bukankah aku sedang melanggar janji yang selama ini telah kubuat? Semester depan aku akan mengajukan proposal penyusunan skripsi. Tinggal selangkah aku dalam mencapai cita-citaku, tapi mengapa aku ingkar?

Aku dikejutkan oleh suara pengumuman petugas stasiun yang mengatakan bahwa kereta akan datang sekitar lima belas menit lagi. Jantungku berdebar, sebentar lagi kereta akan datang dan aku masih ragu untuk melakukan perjalanan ini. Tapi aku sudah terlanjur di sini, apa boleh buat, aku harus segera membeli tiket sebelum kereta datang.

Setelah mendapatkan tiket kereta, aku kembali duduk di tempatku semula. Hari masih pagi, namun suasana di stasiun Solo Jebres terlihat cukup ramai. Para calon penumpang menanti kedatangan kereta dengan tidak sabar, sedangkan para pedagang asongan sibuk hilir mudik sambil menawarkan barang dagangan mereka. Kemudian mataku tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di lantai, tidak jauh dari tempat aku berada. Sepertinya ia adalah salah satu dari anak jalanan yang ada di stasiun ini, terlihat dari pakaian yang ia kenakan. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku seperti melihat kesedihan di matanya. Kemudian aku terdorong untuk mendekati anak itu.

Dengan hati-hati aku menyapanya, “Hai Adik, kok sendirian? Kakak temani, ya.”

Dia tidak menjawab, hanya sibuk memainkan jemari tangannya yang mungil.

“Adik mau kue? Ini, ambillah!” kataku sambil menyodorkan kue yang kemarin baru kubeli dari toko swalayan di dekat kampus.

Dengan ragu-ragu ia mengulurkan tangannya, kemudian mengambil kue itu dari tanganku. Tetapi ia seperti enggan untuk memakannya.

Aku tersenyum,”Ayo, dimakan kuenya. Kue ini enak lho.”

Anak itu masih terdiam. Ia menatapku sejenak, lalu memasukkan kue kedalam mulutnya dengan pelan. Aku terus menatapnya, ia seperti memiliki daya tarik yang bisa mendorong siapa saja untuk memperhatikannya. Usia anak itu mungkin belum genap tujuh tahun, namun ia sudah berada di lingkungan yang kurang mendukung perkembangannya sebagai seorang anak. Kenapa anak sekecil bisa berada di sini sendirian?

“Kamu di sini sendirian?” tanyaku sambil membenarkan posisi dudukku.

“Iya.” Jawabnya pelan. Kemudian ia berhenti memakan kue yang ada pada genggamannya.

“Kenapa berhenti? Nggak enak ya? Ini Kakak punya kue yang lain. Kamu mau kan?” kataku sambil memberikan kue lain yang ada di tas kecilku.

Kemudian ia mengambil kue itu dengan penuh semangat. Lalu ia berkata, “Terima kasih, ya Kak. Aku akan memberikan kue ini kepada ibuku.”

“Wah, kamu baik sekali, kamu sangat menyayangi ibumu ya?” tanyaku.

“Iya Kak, aku sangat menyayangi ibuku. Ibuku juga sangat menyayangi diriku. Setiap hari ibu selalu bekerja keras untuk mencari makan bagi kami berdua. Nah, itu ibuku datang. Ibu…!” ia berseru kencang sambil berlari ke arah seorang wanita setengah baya yang baru datang dari pintu masuk stasiun. Sang ibu langsung menghujani anaknya dengan ciuman di pipi sedangkan sang anak malah tertawa karena geli. Lalu anak kecil itu memberikan kue pemberianku kepada ibunya. Senyum mengembang dari wajah sang ibu, kemudian dengan penuh suka cita ia memakan kue itu bersama anaknya. Keduanya tampak sangat bahagia.

Aku terpana melihat pemandangan seperti itu. Terakhir aku makan bersama-sama dengan ibu sekitar tiga tahun yang lalu. Entah mengapa, ada desir halus menyentuh rongga hatiku. Apakah aku sedang merindukan ibuku? Aku merasa mataku sedikit memanas.

Belum sempat aku menemukan jawaban, terdengar deru kereta yang makin mendekat. Para calon penumpang bergegas mendekati rel kereta. Mereka seolah tidak sabar untuk segera naik ke kereta. Bunyi rem kereta semakin kencang ketika memasuki stasiun, sampai akhirnya berhenti. Suasana menjadi makin riuh oleh suara-suara yang ditimbulkan oleh para calon penumpang yang akan naik ke kereta, ditambah seruan pedagang asongan yang menjajakan barang dagangannya. Setelah pintu-pintu gerbong kereta terlihat sepi, aku baru merapikan barang bawaan dan bergegas naik ke kereta.

Saat memasuki gerbong, aroma tak sedap langsung menyerang penciumanku. Aku segera menutupi hidung dan mulutku dengan sapu tangan, sambil berjalan menelusuri lorong gerbong untuk mencari bangku kosong. Akhirnya aku mendapatkan satu bangku kosong di samping jendela. Bangku itu dapat ditempati oleh dua orang, masing-masing bangku itu saling berhadapan, sehingga memungkinkan para penumpang untuk berinteraksi satu sama lain. Kebetulan hanya ada seorang wanita separuh baya yang duduk di kelompok bangku itu. Sehingga aku tidak perlu khawatir untuk merasa was-was, seperti jika aku duduk bersama pria yang tidak kukenal.

Kereta perlahan bergerak maju, kemudian sedikit demi sedikit kecepatannya pun bertambah. Aku bisa melihat pemandangan luar yang seperti ikut bergerak menjauhi kereta. Rumah-rumah, pohon-pohon, dan sawah-sawah seperti berlari menjauh. Dulu waktu kecil, aku sering bertanya-tanya mengapa itu bisa terjadi. Mengapa gunung dan sawah lari dariku? Apakah mereka tidak menyukaiku? Betapa naifnya diriku waktu itu.

Tiba-tiba saja air mataku meleleh. Aku teringat saat pertama kali diajak naik kereta oleh ayah dan ibuku. Waktu itu usiaku baru tujuh tahun, sedangkan usia Randu belum genap tiga tahun. Kami akan pergi untuk mengunjungi salah satu saudara di Surabaya. Ibu membawa bekal untuk kami dan dengan sabar ia menyuapiku, ketika aku merasa lapar. Ya Tuhan, betapa bodohnya aku jika selama ini mengira ibu tidak menyayangiku. Dari mana aku mendapatkan pemikiran seperti itu?

“Mba, kok menangis? Ada apa Mba?” aku sedikit dikejutkan oleh suara seseorang. Ternyata itu adalah suara wanita paruh baya yang duduk di depanku. Usianya mungkin hampir sama dengan usia ibuku.

“Ah, tidak apa-apa, Bu.” Jawabku sambil mengusap air mata yang membasahi pipiku.

“Mba pasti sedang memikirkan kekasihnya.” Kata wanita itu sambil tersenyum penuh makna.

Aku sedikit tersipu,”Tidak, saya tidak sedang memikirkan hal seperti itu.”

“Kalau bukan, pasti sedang rindu sama ibunya. Iya kan?” tebaknya dengan yakin.

Aku hanya tersenyum, tidak tahu harus menjawab apa.

Wanita itupun tersenyum, kemudian ia berkata, “Ibu mempunyai anak gadis seperti Mba, usianya mungkin juga tidak jauh berbeda dengan usia Mba. Namanya Dinna.” Ia berhenti sejenak, kemudian ia meneruskan kata-katanya, “Ibu sangat menyayanginya, tetapi sudah empat tahun ibu tidak bertemu dengan Dinna. Setelah lulus dari bangku SMU, ia memutuskan pergi ke Jakarta untuk bekerja. Setelah itu, ia tidak pernah lagi pulang ke rumah.” Sejenak wanita itu terdiam sambil menatap ke arah luar jendela.

Aku tidak tahu apa yang sedang dilihat oleh wanita itu. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Aku merasa apa yang disampaikannya mirip dengan ceritaku. Anaknya pergi meninggalkan rumah dan tidak pernah pulang. Tapi, apa yang menjadi alasan Dinna untuk melakukan hal itu?

Seperti dapat membaca fikiranku, wanita itupun berkata. “Dinna tidak pernah pulang karena di antara kami terjadi kesalahpahaman.”

“Kesalahpahaman?” tanyaku dengan heran.

Wanita itu mengangguk, “Waktu itu ibu tidak menyetujui rencana keberangkatan Dinna ke Jakarta. Lalu ia tersinggung, dan mengatakan bahwa ia tidak akan pulang sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Ibu tahu, Dinna anak yang baik, ini semua kesalahan ibu. Ibu tidak pernah mengatakan alasan mengapa ibu tidak setuju dengan keputusannya.”

“Lalu, apa alasan Ibu?” tanyaku lagi.

“Alasannya sederhana saja, ibu sangat menyayangi Dinna. Ibu tidak mau ia berada jauh dari ibu. Apalagi Dinna adalah anak perempuan ibu satu-satunya. Memang terdengar egois, namun itulah yang ibu rasakan. Ibu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Dinna. Tapi sayang, ibu tidak pernah mengatakan hal ini pada Dinna.” Terdengar nada penyesalan dari kata-kata yang diungkapkan wanita itu.

“Mengapa tidak?” tanyaku sambil menatap lekat-lekat wanita yang sedang duduk di depanku itu.

“Ibu juga tidak tahu, terkadang seorang ibu tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada orang lain, bahkan terhadap anaknya sendiri. Waktu itu ibu hanya tidak bisa mengungkapkan rasa sayang ibu kepada Dinna.” Jelasnya.

“Mengapa tidak bisa?” tanyaku penasaran.

“Karena rasa sayang itu tidak selalu bisa diucapkan lewat kata-kata. Tapi percayalah, seorang ibu, walaupun ia tidak pernah mengatakan rasa sayangnya kepada sang anak, namun ia akan menunjukkan rasa itu dengan mendoakan kebahagiaan bagi sang anak sepanjang hidupnya.”

Perasaanku seperti melayang setelah mendengar ucapan wanita itu. Aku merasa ia seperti mengetahui apa yang sedang kualami. Benarkah apa yang dikatakannya? Aku bertanya-tanya, apakah ibuku juga seperti apa yang disampaikan oleh wanita itu?

“Mba, sebentar lagi saya harus turun. Maaf ya, ibu sudah merepotkan Mba dengan berbicara yang aneh-aneh.” Wanita itu berkata sambil mengajakku berjabat tangan. Kemudian ia membereskan barang bawaannya.

“Ah, Ibu. Saya tidak merasa direpotkan, malah saya merasa senang bisa mengobrol dengan Ibu.” Sahutku sambil membantunya merapikan tas-tas yang dibawanya.

“Terima kasih, salam buat Ibu Mba di rumah. Beliau sangat beruntung dengan memiliki anak gadis secantik Mba.” Kemudian ia turun di sebuah stasiun kecil yang tidak kuketahui namanya.

Setelah itu aku tersadar, mungkin benar apa yang dikatakan wanita paruh baya tadi. Mungkin aku yang kurang mengerti tentang ibuku. Seharusnya aku tidak begitu saja menuruti egoku untuk tidak pulang hanya karena sebuah pembuktian bahwa aku tidak seperti yang difikirkan oleh ibu.

Tiba-tiba saja aku merasa tidak sabar untuk segera sampai ke rumah. Aku terus berdoa agar kereta ini bisa cepat sampai ke kotaku, walaupun aku tahu saat ini keretaku baru memasuki daerah Madiun. Perjalanan menuju Blitar masih jauh, tapi aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ibu. Aku akan meminta maaf atas segala keegoisanku. Malahan, saat ini aku hampir lupa dengan keragu-raguan yang aku rasakan pagi tadi saat berada di stasiun. Aku merasa sangat yakin dengan keputusanku ini. Aku memang harus pulang. Bagaimanapun ibu adalah segalanya bagiku, dan aku tidak bisa seenaknya saja meragukan rasa sayang ibu padaku. Kemudian aku merasa sangat mengantuk dan kuputuskan untuk tidur sejenak.

Hari sudah siang ketika aku mendengar suara petugas kereta membangunkan tidurku. Aku segera melihat ke arah luar jendela. Sudah sampai stasiun manakah diriku? Hatiku seperti melonjak, ketika mengetahui bahwa di luar aku bisa dengan jelas melihat papan besar bertuliskan nama kotaku. Aku sudah sampai di kota kelahiranku!

Kemudian aku segera membawa tas bawaan dan bergegas menuju pintu keluar di ujung gerbong kereta. Tak kuhiraukan para penumpang yang berdesakan dengan para pedagang asongan yang berjalan di lorong gerbong. Bahkan bau tidak sedap yang kurasakan tadi pagi, sama sekali tidak tercium olehku. Aku merasa sangat bahagia, hingga aku tidak peduli dengan rasa penat yang kurasakan karena duduk terlalu lama di dalam kereta. Perjalanan selama enam jam sama sekali tidak terasa bagiku. Kemudian, dengan penuh semangat, aku segera mencari angkutan umum yang bisa membawaku pulang ke rumah.

Namun, nasib sial sedang menimpa diriku ketika angkutan umum yang kutumpangi tiba-tiba saja mogok di tengah jalan. Sopir tidak bisa memperbaikinya, kemudian ia sibuk meminta maaf kepada para penumpang dan meminta agar menunggu sebentar. Aku merasa sudah tidak sabar, aku segera keluar dari mobil, membayar sejumlah uang, kemudian berlari sekuat tenaga menuju kompleks perumahan tempat aku tinggal. Tak kurasakan betapa sakitnya kakiku karena lecet, yang terbayang di benakku hanyalah wajah ibuku. Ibu, maafkan Rinjani, sebentar lagi aku akan sampai. Aku berjanji akan menjagamu setelah lulus nanti.

Keringat dingin terus mengucur di dahiku, tapi aku tidak perduli. Tinggal beberapa blok yang harus kulalui untuk bisa sampai ke rumah. Aku semakin mempercepat lariku, tak perduli terhadap tatapan orang-orang di sekitar. Aku hanya ingin bertemu dengan ibu, ayah, dan Randu. Rasa lega menyelimuti hatiku, ketika aku sudah sampai di depan rumah yang telah kutinggalkan selama tiga tahun itu. Tidak banyak yang berubah dari rumah ini, hanya terdapat pohon-pohon baru yang tumbuh di samping halaman. Tapi, mengapa ada banyak orang di halaman rumahku? Apakah Randu telah mempersiapkan sebuah acara penyambutan yang meriah buatku? Seharusnya ia tidak perlu serepot itu, aku cukup senang hanya dengan melihat keluarga kami bisa berkumpul bersama seperti dulu lagi. Tapi, bukankah Randu tidak mengetahui tentang kepulanganku, kemarin aku tidak membalas sms darinya. Lalu, apa yang terjadi?

Aku segera masuk, orang-orang melihatku dengan tatapan yang aneh. Aku harus minta penjelasan mengenai hal ini pada Randu. Kemudian aku melihat adikku itu sedang berdiri sambil menunduk di depan pintu.

“Randu! Ada apa ini, mengapa orang-orang berkumpul di rumah kita?” aku berseru sambil menurunkan tas bawaanku. Aku kaget, ketika Randu memelukku.

“Ada apa, Ndu?” tanyaku penasaran. Tidak biasa-biasanya ia melakukan hal seperti ini terhadapku.

“Ibu, Mba.” Ia berkata dengan suara serak.

“Ibu kenapa?” aku masih belum mengerti tentang semua ini.

“Ibu meninggal, Mba. Tadi pagi ibu jatuh dari kamar mandi, dan meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Mba kan tahu, kalau ibu memiliki sakit jantung. Aku sudah menghubungi Mba, tapi nggak bisa. Mobil jenasah rumah sakit yang membawa jenasah ibu, sedang dalam perjalanan. Kita harus tabah, Mba.”

Entah apa lagi yang diucapkan oleh adikku, aku tidak bisa mendengarkannya dengan jelas. Otakku berdenyut keras, aku kesulitan untuk mencerna perkataan Randu. Jantungku berdebar kencang. Tidak mungkin ini terjadi. Mungkin aku hanya bermimpi, aku hanya perlu terbangun untuk mengakhiri mimpi buruk ini. Tapi aku tahu, aku sedang tidak bermimpi. Tuhan, mengapa ini terjadi padaku? Hatiku terasa perih, hingga aku menangis tanpa mengeluarkan air mata. Kemudian aku tidak bisa merasakan apa-apa, kecuali gelap yang menyelimuti penglihatanku.

Aku sedang tidak sadarkan diri, tetapi aku bisa melihat wajah ibu yang sedang tersenyum kepadaku. Ibu, jangan tinggalkan Rinjani. Rinjani menyesal, kembalilah kepadaku, Bu. Aku mohon! Kemudian, dengan bercucuran air mata, aku berbisik, Ibu…maafkan Rinjani.

Older Posts »