2moro never die
September 12, 2008 by kemejabiru
Tentang Esok
Oleh: Anita Widya
Aku menganggap bahwa esok adalah segenggam harap yang aku yakin pasti akan datang. Dan penuhi janjinya padaku. Pasti. Manusia sepertiku hanya mampu berpikir urusan apa yang bisa kuselesaikan esok, atau lusa, atau minggu depan. Tanpa sedikitpun merasa bahwa ada kemungkinan, entah berapa persen, bahwa bisa saja hari esok yang selama ini kuyakin akan selalu datang tiba-tiba urungkan niatnya, lalu memutuskan untuk tidak menghampiriku lagi. Sebab itu terkadang aku juga tidak pernah mengingat tentang apa yang kuperbuat di hari yang telah lalu. Karena yang penting masih ada hari ini, juga esok itu.
Selalu kuingatkan diriku bahwa esok adalah tujuan untuk kukepalkan jemari, bersiap bikin kebaikan, tepati janji pada sejumlah kawan atau rekan, juga tanam keyakinan bahwa aku takkan mengulang kesalahan yang telah kulapiskan pada perjalanan hidup.
Tapi, yang tak kumengerti adalah tetap saja aku merasa bahwa esok telah permainkanku. Selalu beriku kesempatan untuk kembali pada suatu masa yang sama, suatu aroma ruangan yang sama, nuansa yang serupa, juga desah napas yang selalu membawaku pada alur penuh, semaikan hasrat seirama yang kemudian hanya bisa sisakan tangis di sudut matanya. Bulir cair yang mengalir itu tak pernah kubayangkan mampu mengaduk seluruh isi jiwaku. Menjadikannya gumpalan yang kusangkal sebagai sesal, kutampik sebagai takut yang pelik. Hanya Tuhan yang tahu tentang gumpalan-gumpalan itu, yang kian hari membesar memadati ribuan pembuluh darah, lalu perlahan menjadi racun.
Apakah esok benar-benar telah menipuku dengan janji-janji yang telah dipersembahkannya kepadaku? Meskipun aku juga tidak begitu yakin kapan esok meniupkan janji memabukkan itu. Atau aku hanya berimajinasi tentang harapan-harapan? Tentang suatu peristiwa yang bisa kapan saja kuulang, lalu kuhapuskan, lalu terulang, lalu hapus, ulang, hapus, ulang, hapus…
Selalu saja berulang kesalahan yang sama, selalu kumasuki ruang yang sama, menghirup udara yang juga sama, setelah kemudian aku menoreh indah yang sama persis juga menyisakan kacakaca di bola matanya. Tak perlu kujelaskan betapa aku sangat mengharap pada esok, semua begitu gamblang. Bahwa esok selalu tawarkan sesuatu yang menjanjikan kesempatan kedua, atau mungkin juga banyak kesempatan yang selama ini tidak sering hanya menjadi sia-sia. Lalu bagaimana jika esok berkhianat? Melenggang dengan santai tinggalkan tangan-tangan yang harapkan kesempatan berikutnya, peluang yang mungkin menyertainya. Matikah kita? Kukira takkan segampang itu. Masih ada serentetan kutukan yang enggan kusebut penyesalan, hanya malu. Pada Tuhan.
Kemudian samar kudengar mulutku mengucap sumpah yang sama seperti yang lalu, yang selalu diiringi haru yang kuciptakan sendiri, berkali-kali. Esok takkan lagi terulang, atau kan kulihat pipi perempuan itu berlinang.