Jembatan Baru Mipidan: Antara Untung dan Rugi
September 14, 2008 by kemejabiru
Jembatan Baru Mipidan: Antara Untung dan Rugi
Pembangunan sebuah jalan, sedikit banyak akan membawa harapan akan keterbukaan akses masyarakat ke daerah luar. Keterbukaan akses diyakini mampu merubah kondisi perekonomian warga sekitar. Seperti pembangunan Jalan dan Jembatan Mipidan yang telah membuat warga Gulon selatan yang semula terisolir menjadi lebih terbuka. Warga merasa diuntungkan dengan naiknya harga tanah, jalanan mulai ramai, bisa kemana saja dengan mudah, semua serba enak, kurang apalagi? Namun, ada juga warga yang tidak rela ketika tanah mereka harus berkurang dan tepian jalan yang terlalu mepet dengan pintu rumah mereka.
Mipidan adalah sebuah desa yang terletak antara Jebres dan Mojosongo. Meskipun bisa dikatakan lebih dekat kearah kota –Mojosongo—tetapi desa ini masih terkesan sebagai sebuah desa yang terpencil dan jarang terjamah. Bagaimana tidak, akses untuk menuju ke desa ini memang sulit. Selain jalan yang harus dilalui sempit dan berbatu-batu serta tidak rata, satu-satunya jembatan penghubung yang bisa dilalui oleh masyarakat Jebres untuk menuju ke Mipidan pun sangat kecil dan hanya cukup untuk dilewati sebuah sepeda atau motor saja.
Menurut Joko Hartono, Ketua RT 5 Gulon Selatan, Sebelumnya, warga Gulon harus mengambil jalur yang lebih jauh ketika akan pergi ke Jebres. “ Sangat tidak efisien, karena selain jauh, jembatan yang ada terlalu sempit. Untuk melaluinya saja harus antri karena hanya bisa dilewati satu kendaraan motor saja,“ ungkapnya.
Keterbatasan akses ini, membuat masyarakat Mipidan yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani ini, jarang melakukan sosialisasi dengan warga masyarakat di desa lain. Ironisnya, sebuah desa yang termasuk wilayah Gulon tidak saling mengenal karena terpisahkan oleh sebuah sungai yang cukup besar. Warga daerah Gulon yang berbatasan langsung dengan Mipidan disebut-sebut masyarakat Gulon yang berbatasan langsung dengan Ngoresan sebagai Lor Kali.
Masyarakat desa Gulon Kidul (selatan) mengakui bahwa masyarakat desa Lor Kali (utara sungai) dan Kidul Kali (selatan sungai) itu tidak saling mengenal. “Daerah utara sama selatan itu dulunya sebelum ada jembatan itu tidak saling mengenal, karena tidak pernah bertemu. Padahal ya masih satu desa, “ ujar Joko Hartono
Joko menambahkan, pembangunan jembatan dan jalan tersebut, membuat perekonomian warga Gulon dapat meningkat. “Kalau jalan ini sudah diselesaikan, besar kemungkinan harga tanah di lingkungan ini (Gulon, red), akan naik. Sehingga perekonomian warga dapat meningkat pula. Selain itu akses ke tempat kerja juga bisa lebih mudah dan hemat BBM.”
Hal senada diungkapkan oleh Wartono, warga desa ngemplak yang sedang duduk-duduk di sekitar jembatan mipidan. “Wah, saya sangat mendukung Mbak, wong sekarang saya jadi lebih cepat sampai ditempat kerja. Selain mudah, kan kita juga bisa irit bensin. Apalagi katanya sebentar lagi BBM naik,” ungkapnya.
Dari hasil penelusuran PERSPEKTIF, sebagian besar warga Gulon Selatan merasa diuntungkan dengan proyek pembangunan jalan dan jenbatan ini, karena mereka tidak harus kehilangan tanah mereka. Hal ini berbeda dengan pendapat beberapa warga Gulon Utara, meski pihak pemkot Solo membeli tanah warga dengan harga tinggi, namun sebagian dari warga juga merasa kecewa karena tanah mereka harus berkurang.
Menurut Temu, salah satu warga Ngoresan yang sedang membangun rumah di tepi jalan Mipidan mengaku kecewa dengan pembangunan jalan ini. “Sebelumnya saya tidak mengira kalau tepi jalanan sangat mepet dengan pintu rumah. Karena dulu sudah pernah ditandai dan itu tidak mepet dengan rumah. Tapi setelah dibangun, saya malah jadi nggak punya teras,” jelasnya ketika ditemui di sela kesibukannya membangun rumah (22/5).
Temu mengaku mendapat ganti rugi dari pemerintah sebesar Rp. 1.250.000/m2, meski harga tanah cukup tinggi namun ia merasa rugi karena tanahnya semakin sempit. “Ya kalau ditanya untung apa rugi, menurut saya pribadi lebih banyak ruginya. Walaupun harga tanah naik dan jalanan menjadi ramai, tapi tanah saya tambah sempit. Padahal anak saya sudah banyak,” ungkapnya.
Temu menambahkan, tepian jalan yang terlalu dekat dari pintu rumah dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pemilik rumah. “Dulu setelah ada sosialisasi akan dibangun jalan, sudah saya beri jarak 1 meter dari jalan, tapi setelah pembangunan malah tinggal seperempat meter saja. Terus terang sangat mepet dengan jalan, kasihan anak saya masih kecil-kecil.”
Hal serupa juga diungkapkan oleh Condro Trihatmojo, warga Gulon Utara yang rumahnya juga tepat di tepi jalan Mipidan, “Sebenarnya cukup beresiko, karena rumah saya terlalu mepet jalan, sehingga agak tidak nyaman. Kalau boleh milih, saya lebih suka tidak usah dibangun jalan besar saja. Tapi apa boleh buat, kami cuma wong cilik,” ungkapnya ketika ditemui di rumahnya (18/5).
Condro berharap daerahnya bisa lebih maju dan perekonomian warga meningkat. “Yang penting jalan ini tidak diperlebar lagi, karena tanah saya sudah sempit. Sekarang saja, saya masih bingung membuat tempat parkir sepeda motor, karena sudah nggak ada lahan lagi.”
Hal senada diungkapkan Srianto, warga Gulon yang juga bertempat tinggal tepat di sisi jalan. “Selain bahaya, bentuk bangunan rumah saya jadi tidak jelas, karena ada pengurangan lahan di rumah bagian depan. Sekarang sudah tidak ada halaman, pintu rumah juga hanya berjarak setengah meter dari jalanan. Apa nggak miris itu?,” tuturnya ketika ditemui sabtu sore (22/5) dirumahnya.
Srianto mengeku tidak tahu kalau jalan (Mipidan, red) ini akan dilalui bus-bus besar antar propinsi. “Wah, kalau begitu, saya jadi nggak setuju Mbak, karena jalanan terlalu mepet rumah warga, selain itu di sini juga banyak anak-anak kecil. Pasti tidak aman nantinya, apalagi bus anatar propinsi kan jalannya nggak pelan,” ujarnya.
Meski sebagian besar warga mengaku terbantu dengan adanya pembangunan jalan dan jembatan Mipian, namun sebagian warga yang terkena imbas langsung dari proyek pemerataan akses ini mengaku cukup dirugikan. Karena tidak adanya sosialisasi tentang lebar jalanan yang akan dibangun, sehingga warga yang tinggal di tepi jalan terpaksa harus rela rumahnya menjadi sempit dan terancam rawan kecelakaan. (Anita wp)