Wayang Orang Sriwedari, Ikon Kota yang Terpinggirkan
September 14, 2008 by kemejabiru
Wayang Orang Sriwedari, Ikon Kota yang Terpinggirkan
Kondisi wayang orang Sriwedari Solo, kini semakin memprihatinkan. Bukan hanya penonton yang nyaris tidak pernah memadati setiap pertunjukan, tetapi kesan sebagai kesenian yang pernah menjadi indikator kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa pun tak nampak lagi. Meski setiap malam berlangsung pentas wayang orang, namun suasana seakan terkesan ‘apa adanya’, seperti mati segan hidup tak mau. Lalu bagaimanakah peran pemerintah kota Solo sebagai pihak pengelola?
Sepinya pengunjung membuat kesenian wayang orang Sriwedari mulai terancam keberadaannya. Dalam pertunjukan kamis malam pekan lalu, Fokus 7 hanya menjumpai kurang dari sepuluh orang yang mengunjungi Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari. Padahal kesenian ini pernah mengalami kejayaan pada era 60-an hingga pertengahan 80-an dengan jumlah pengunjung 2000 orang perbulannya. Namun saat ini di setiap pagelaran, jumlah pengunjungnya dapat dihitung dengan jari, meski harga tiket tak lebih dari 3000 rupiah.
Kondisi memprihatinkan ini juga dipaparkan Diwasa, S. Sn, pimpinan GWO Sriwedari. “Sekarang ini GWO sedang dalam masa sulit, tiap malam penontonnya sangat sedikit, bahkan beberapa kali pernah tidak ada penontonnya sama sekali. Hanya pada malam minggu yang agak rame.”
Menurut Tugimin (56), salah satu budayawan kota Solo menjelaskan penyebab sepinya pengunjung GWO karena perkembangan kesenian lain yang lebih ‘menghibur’. “Saat ini anak muda lebih menyukai hiburan-hiburan yang bersifat modern, misalnya menonton film di bioskop. Perkembangan jaman yang melahirkan berbagai fasilitas, juga membuat kesenian wayang orang ditinggalkan.”
Selain itu, Tugimin juga menilai bahwa kualitas pertunjukan juga mengalami penurunan dibandingkan tahun keemasannya terdahulu. “Dulu, para pemain sangat disiplin dalam melakukan memerankan lakonnya, dan saya kira saat itu lakon-lakonnya cukup memenuhi pakem. Setiap pertunjukan berdurasi 4 jam, sedangkan sekarang kurang dari 2 jam saja,” ujarnya.
Diwasa menjelaskan bahwa pengurangan durasi dilakukan karena sepinya pengunjung saat ini.”Jika kita pakai durasi lama, maka akan semakin sedikit yang nonton. Jadi, kita persingkat waktunya, namun tetap memenuhi pakem yang ada.” Ia juga tidak menampik adanya penurunan kedisiplinan dari pihak pemain, “Pemain sekarang tidak segigih tempo dulu, jamannya Darsi “Pergiwa” (pemain legendaris GWO Sriwedari, red). Sekarang untuk pembagian peran saja sangat mepet sehingga jarang ada briefing terlebih dahulu.”
Namun, alumni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini juga menjelaskan bahwa mood pemain juga tergantung dari jumlah penonton sendiri. “Kalau jumlah penontonnya banyak, kami juga jadi semangat mainnya. Tapi kalau sepi, rasanya ingin segera menyudahi pertunjukan itu,” ungkapnya.
Beberapa pemain memang sering mengalami kebosanan ketika pertunjukan yang mereka gelar dengan penuh persiapan hanya ditonton oleh tidak lebih dari sepuluh orang. Untuk mengatasinya Diwasa sering melakukan pendekatan personal kepada pemain dan memberikan dukungan dan semangat. “Bosan itu wajar Mbak, apalagi kalau ngga’ ada yang nonton. Tapi kita selalu berusaha untuk membangkitkan semangat mereka karena kita mencintai kesenian ini.”
Menurut Agus Prasetyo, salah satu pemain wayang orang yang sudah tujuh tahun menjadi anggota wayang orang Sriwedari ini mengaku tidak menyerah pada keadaan ini. Meski ia merasa kerja keras yang dilakukan para pemain wayang orang setiap harinya dirasa kurang mendapatkan penghargaan maupun perhatian lebih dari masyarakat. “Setiap hari penontonnya sepi, kalau ada 10 orang itu sudah ramai,” ungkapnya. Keadaan itulah yang terkadang mempengaruhi suasana hati para pemain, tak terkecuali Agus.
Berbeda dengan Irwan Damasto (17), salah satu pemain yang masih duduk di bangku SMU mengaku tidak menanggapi rasa bosan yang datang karena sepinya penonton, ia lebih suka melakukan kesenian ini untuk mengeksplor kemampuannya di bidang tari. “Saya terkadang kecewa juga kalo ngga’ ada yang nonton, kok kayaknya orang-orang ngga’ menghargai kesenian sendiri. Tapi pengalaman ini saya anggap sebagai ajang latihan untuk bakat yang saya punya. Saya sudah bangga bisa menjadi bagian dari wayang orang Sriwedari, meski tidak dibayar, karena saya masih magang,” jelasnya panjang lebar.
Menyangkut permasalahan gaji, dari 85 anggota kelompok wayang orang Sriwedari, 90 persen diantaranya sudah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), sisanya masih sebagai tenaga honor. Hal ini merupakan kebijakan dari pemerintah yang ingin menyejahterakan para seniman. Sebelum kebijakan itu turun,.kesejahteraan anggota kelompok wayang orang sriwedari boleh dibilang sangat memprihatinkan. “Kita dulu, cuma dapat penghasilan dari hasil penjualan tiket dan kalau yang pegawai honorer cuma ketambahan beberapa ribu saja,” ungkap Diwasa.
Diwasa juga menambahkan, memasuki pemerintahan Joko Wi, kesejahteraan anggota kelompok wayang orang sriwedari ini mulai meningkat, semua anggota yang masih honorer diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, tapi bagi anggota yang berumur lebih dari 46 tahun masih menjadi pegawai honorer. Anggota kelompok tersebut berjumlah 85 orang, dari jumlah itu termasuk begian kebersihan dan anggota karawitan.
Pemerintah kota Solo memang dinilai sudah peduli terhadap masalah kesejahteraan anggota kelompok wayang orang ini, tapi perhatian pemerintah terhadap masalah kualitas, dinilai Diwasa masih kurang. “Hal ini terjadi karena ada penerimaan pegawai yang tidak sesuai dengan kriteria yang ada pada kelompok ini. Pemerintah dalam menerima pegawai hanya melihat latar belakang pendidikannya dan asal mereka lulus tes tertulis, pemerintah langsung memasukkan mereka menjadi bagian kelompok wayang orang ini, tidak melihat apakah mereka memiliki bakat dalam kesenian wayang orang,. Hal ini juga menjadi salah satu penurunan kualitas pertunjukan.” Jelasnya.
Kurang sosialisasi
Beberapa cara telah ditempuh oleh pihak GWO dalam menarik jumlah pengunjung, salah satunya adalah dengan publikasi lewat beberapa media. “Selain lewat woro-woro (papan pengumuman, red), kami juga mempublikasikan lewat Solopos dan radio Swara Graha. Namun jumlah pengunjung masih tidak mengalami peningkatan yang drastis.”
Ketika ditanya mengenai bagaimana peran pemerintah kota Solo sebagai pihak pengelola Sriwedari, dalam membantu sosialisasi, Diwasa menjelaskan, “Pemerintah cukup berperan dalam hal sosialisasi, namun masih sebatas pencantuman GWO Sriwedari dalam jurnal-jurnal wisata kota solo, ataupun brosur perjalanan saja. Selebihnya kami (pengurus, red) yang berusaha sendiri dengan mengundang sekolah-sekolah seperti SD, SMP, dan SMU. Hal ini kami lakukan untuk memperkenalkan kesenian wayang orang pada generasi muda.”
Agus, pemain wayang orang Sriwedari menyatakan, bahwa promo melelui media massa harus tetap dilakukan, tapi pemerintah harus menambah promosi ke hotel dan biro pariwisata. “Di koran dan radio sudah, tinggal di hotel dan biro-biro wisata yang belum terjangkau,” ungkap lulusan STSI Solo ini.
Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya (Diparsenbud), Handartono menyebutkan dalam hal sosialisasi, selain dengan memasang publikasi di media, pihaknya juga membagikan tiket pertunjukan wayang orang kepada para pegawai pemkot. “ Kami memberikan tiket agar tiap malamnya jumlah pengunjung bisa meningkat sekaligus mengajak para pegawai dan keluarga untuk mengenal lebih dekat kesenian ini. Namun, untuk mereka (para pegawai pemkot, red) datang atau tidak, itu tergantung mereka sendiri. Kami tidak berhak untuk memaksa,” jelasnya.
Namun, Diwasa sempat menjelaskan bahwa perhatian yang pemerintah berikan saat ini semakin berkurang bersamaan dengan berkurangnya minat masyarakat terhadap kesenian ini. “Sebenarnya sulit menentukan siapa yang lebih dulu meninggalkan (melupakan, red) kami, apakan masyarakat dulu, atau pemerintahnya. Saya ingat dulu di masa Soeharto, apresiasi pemerintah terhadap wayang orang masih tinggi, hal ini juga diikuti oleh animo masyarakat yang berkunjung meningkat.”
Diwasa juga menambahkan, seharusnya pemerintah lebih proaktif dalam mensosialisasikan GWO Sriwedari, misalnya dengan mempromosikan kesenian wayang orang secara lebih gencar lagi. “Yang penting penanaman rasa peduli seni pada masyarakat Solo dulu, jika sudah kuat maka sosialisasi yang keluar lebih diperkuat lagi. Karena selama ini wisatawan dari luar hanya kebanyakan berkunjung pada sabtu malam, sedangkan malam-malam sebelumnya sangat sepi,” ujarnya. Ia juga berharap agar pihak pemerintah selain memberikan perhatian berupa materi, juga menunjukkan minatnya pada kesenian ini dengan menyaksikan pertunjukan wayang orang..
Menurut Tugimin, memang tidak mudah untuk menghidupkan GWO lagi di tengah-tengah menjamurnya bioskop dan kafe-kafe tempat nongkrong anak-anak muda. Namun perhatian, peranan dan bantuan dari pemerintah setidaknya mampu membuat GWO dan seniman-seniman yang barnaung di dalamnya mendapatkan hak yang layak sesuai dengan pengabdian yang telah mereka berikan. (Anita, Ichi)