solo, dengan senja
November 9, 2008 by kemejabiru
Sore tadi kasihku mengirim sebuah amplop yang dari sudut-sudutnya terpancar sedikit cahaya. Seorang pemuda yang terlihat gesit dan cekatan, mengantarkannya untukku, katanya dari seseorang yang sangat merinduku di ibu kota. Aku bilang terima kasih dan maaf sudah merepotkan. Dia bilang tidak apa-apa, dia senang membantu. Sebelum berpamitan ia sempat mengucapkan sebuah nama: Sukab.
Setelah kubuka, maka terkejutlah aku menemukan sepotong senja yang dilipat menjadi empat menyeruak dari dalam amplop. Senja sebesar kertas berukuran A3 menari-nari di depan wajahku. Begitu hangat dan sangat jingga. Aku terkagum-kagum, senja sekecil itu ternyata mampu menghias Solo yang berawan. Memberi sinaran di antara langit hitam. Membuat raut bahagia di wajah ibu-ibu di sekitar kompleks, lega karena ada kemungkinan cucian kering, lega karena listrik tidak jadi padam seperti malam sebelumnya.
Jingga seukuran A3 itu juga menghibur para gadis, yang ragu akan hujan yang menghentikan langkah para kekasih yang berencana bertemu di teras nanti malam.
Aku sungguh bahagia dengan hadiah itu. Kekasihku yang satu itu memang serba pengertian. Meski 150 malam telah berlalu tanpa kecupan, tapi kiriman senja itutelah menghapus segala ragu yang terkadang menggoda untuk diungkapkan.
Kasihan juga Jakarta sore itu. Pasti orang-orang di sana kebingungan, mengapa senja mereka tidak utuh? Kenapa senja sebesar A3 bisa menghilang? Malah kekasihku mengatakan bahwa tadi sore Jakarta bertambah muram, selain kemacetan, senja yang hilang sebagian berarti tidak menggenapkan senja mereka. Hari ini, orang-orang Jakarta tidak memiliki senja. Dan aku hanya tertawa, membayangkan wajah kasihku, sambil memeluk erat senjaku itu.
i like twillight……..
siapa ya yang kirim…hiii
kok ga pernah update sih..kemana aja? ayo toh , yang rajin hee..biar semangat aku kasih hadiah deh besok heee
anda mendapat kan award blog
silahkan kunjungi: http://labib85.wordpress.com